Rabu, 08 April 2015

Vas bunga

Pranggg

Bunyi benda itu seketika membuat cewek berambut pendek itu kaget, ia tidak sengaja menyenggol vas bunga itu karena sedang terburu-buru mencari buku miliknya, refleks ia langsung memegang pecahan vas bunga berwarna krem itu.

Aaaww, rintihnya tertahan sambil memegang telapak tangan kirinya yang sedikit berdarah.
Mata bulatnya kini menatap pecahan vas bunga berisikan bunga mawar putih dan air yang ikut membasahinya, tangan kanannya mencoba mengambil tangkai bunga tersebut dengan hati-hati karena ada durinya.

"Ini bunga buat kamu ya dek, hati-hati megangnya, soalnya banyak durinya" Ucap lelaki berkaca mata itu sambil menyodorkan sebuah bunga mawar putih kepada anak perempuan yang tingginya tak lebih dari pinggangnya.

Anak perempuan bermata coklat itu hanya mengangguk lalu mengambil tangkai bunga tersebut dengan kehati-hatian yang cukup tinggi, lalu ia mengucapkan terima kasih disertai senyumannya.

"Bunga itu janji kalau kakak bakal balik lagi untuk ketemu kamu disini, jadi kamu harus jaga bunga itu baik-baik sampai kakak balik lagi, oke cha?" Kata lelaki itu lagi sambil menurunkan badannya setara dengan anak perempuan tersebut.

"Oke kak" jawab icha mantap. Mendengarnya, lelaki tersebut mengacak-acak pelan rambut icha disertai kekehan kecil.

Mengingat itu, icha-cewek berambut pendek- menangis dalam diam.
"Maafin aku kak, aku gagal menjaga bunga ini" katanya lirih, tangan kanannya masih memegang tangkai bunga tersebut, kali ini ia memegangnya cukup erat hingga darah bercucuran dari telapak tangannya.

Rabu, 01 April 2015

Keyakinan

"Apa kau ragu dengan ku? Nggak yakin?" Tanya laki-laki itu dengan tatapan mengintimidasi wanita didepannya yang sedang menunduk.

"Jawab nay!" Kata laki-laki itu lagi, tapi wanita itu tetap bergeming.

Mereka sedang ada ditaman kota. Tempat pertemuan mereka untuk pertama kali beberapa tahun silam.

"A..aku takut" ucap lirih selirih angin wanita tersebut.

"Takut apa? Kamu gak yakin dengan janji ku? Jawab say"

"Kita beda keyakinan ray" Potong wanita berambut kecoklatan itu.

"Kalau bersama-sama, kita pasti nemuin jalan keluarnya" ucap tegas rayan.

"Tapi aku gak yakin, semua nya bakal semudah itu"

"Tatap mata aku nay, aku bakal buktiin kalau agama bukanlah pengahalang" Rayan kembali menegaskan kepada nayla dengan memegang kedua bahu nayla lalu dicekram pelan. Senja mulai menerangi keduanya.

"Kasih aku waktu" kata nayla singkat setelah menatap mata elang milik rayan. Penuh kepercayaan dan keyakinan!.

"Baiklah, tapi aku yakin bahwa kamulah tulang rusuk utama ku. Aku kan bertahan selama waktu masih berjalan. Aku janji" ujar rayan sambil mengelus pipi kanan nayla dengan lembut. Nayla hanya mengangguk lalu memejamkan matanya sebentar.

"Sudah ya! Aku balik dulu, dahh sayang" pamit rayan yang diangguki kembali nayla.

Akhirnya mereka berpisah, berlandaskan dengan kepercayaan dan ketulusan  serta menunggu waktu dan takdir untuk mempertemukan kembali.